PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO Sekretariat Jl. Raya Jatiwaringin no. 368 Pondok Gede - Bekasi

PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO

Kecamatan Linggo Saribaganti Kabupaten Pesisir Selatan SUMBAR

PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO

Kecamatan Linggo Saribaganti Kabupaten Pesisir Selatan SUMBAR

PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO

Kecamatan Linggo Saribaganti Kabupaten Pesisir Selatan SUMBAR

PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO

Kecamatan Linggo Saribaganti Kabupaten Pesisir Selatan SUMBAR

PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO

Kecamatan Linggo Saribaganti Kabupaten Pesisir Selatan SUMBAR

LS

LS

Sabtu, 28 September 2013

Mahasiswa Unand Hanyut,Ketua Mapala Angkat Bicara

Padang - Simpang siurnya berita yang disampaikan oleh banyak media, membuat seorang senior Mapala Unand, Aldian, angkat bicara menyampaikan pelurusan informasi terkait bencana hanyutnya mahasiswa yang tengah melakukan survey medan di sekitar sungai patamuan ,Limau manis Unand ,kemaren sore di Padang.Hal ini diungkapkan Aldian di sekretariat Mapala Unand kepada wartawan dini hari (29/09) .
“Mereka berjumlah 8 orang, sedang melakukan kegiatan rutin Mapala Unand, untuk survey medan di sekitar sungai patamuan,” Kata Aldian.
Berangkat pukul 07.00 WIB kemarin (28/09/2013), kata Aldian, misi mereka mempelajari medan di sekitar sungai Padang Karuah dan Sungai Batang Janiah yang mengalir disisi kiri dan kanan Bukit Pungguang Ladiang. Aliran sungai itu yang akan bertemu di Sungai Patamuan.
“Dari batu busuak ke sungai patamuan, jarak tempuhnya hanya sekitar 1 jam, dengan berjalan kaki,” Kata Aldian.
Sampai di Patamuan, lanjut Aldian, mereka meneruskan perjalanan ke Bukit Pungguang Ladiang. Jalur yang mereka tempuh adalah sisi kiri bukit melalui jalur pinggiran sungai Padang Karuah. Setelah sampai, mereka pun berkegiatan di Bukit Pungguang Ladiang. Baru ketika siang hari menjelang sore mereka turun ke arah Sungai Padang Janiah.
“Di kaki bukit, mereka sempat beristirahat, masak-masak, dan makan.” tutur Aldian.
Setelah selesai, tutur Aldian, 6 Orang anggota bermaksud menyebrangi sungai Janiah yang lebarnya hanya berkisar antara 20 sd 30 Meter. Dengan kedalaman rata-rata sekitar di bawah lutut orang dewasa.
Mereka yang menyebrang adalah :
- Elin Florita (Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian BP. 2012 – asal Lubuak Basuang)
- Artica Caspela (Fakultas Psikologi Bp. 2011 – asal Indro Puro)
- Rezki Tega (DIII Ekonomi Bp. 2010 – asal Anduring Padang)
- Aidil Adi Warsa (Fakultas Ekonomi Jurusan Akutansi Bp. 2011 – Asal Bukittinggi)
- Deni Leonardo (Fakultas Pertanian Jurusan Agroekoteknologi Bp. 2010 – Asal Pesisir Selatan)
- Veglan Rizki R. (Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Bp. 2012 – Asal Baso Bukittinggi)
Sedangkan 2 orang teman mereka:
- Ivo Nurdio Putra (Fakultas ISIP Jurusan Sosiologi Bp. 2009 – Asal Air Haji-Pesisir Selatan), dan
- Meta Ramarita (Fakutas Peternakan Bp. 2010 – Asal Pasaman Barat),
Tidak ikut menyebrang dan masih berada di kaki Bukit Pungguang Ladiang.
Ketika 6 Anggota Mapala itu sedang menyebrang, tiba-tiba dari arah hulu air Sungai Janiah mengalir air yang sangat besar. Ke-6 Anggota Mapala itu pun hanyut terbawa arus sungai.
“Diluar perkiraan mereka kejadian ini, sebab memang biasanya sungai janiah sangat dangkal dan sungainya terbilang pendek. Jadi kalau ada yang bilang mereka sedang berarung jeram, itu tidak benar” Kata Aldian.
Ivo dan Meta yang menyaksikan kejadian yang berlangsung sangat singkat itu, segera melaporkan kejadian melalui handphonenya, ke sekretariat mereka di Kampus Limau Manis Universitas Andalas. “Dari sanalah akhirnya berita kemudian menyebar” kata Aldian.
Setelah gelap, warga masyarakat menemukan 2 Anggota Mapala dalam keadaan meninggal dunia. Mereka adalah Elin Florita dan Artica Caspela.
“Pencarian diteruskan hingga malam hari, namun karena cuaca buruk dan aliran sungai pun sangat deras, upaya pencarian yang dilakukan oleh tim SAR dari Mapala Unand, masyarakat dan Aparat terkait yang ikut mencari, sementara dihentikan,” Kata Aldian.
Khusus tim dari Mapala Unand yang berjumlah sekitar 60 Orang, menurut Aldian, beristirahat di titik-titik pinggir sungai mulai dari Sungai Patamuan hingga jauh ke hilir. Pagi hari sekitar pukul 05.00 sampai 06.00WIB, 2 jenazah kembali ditemukan jauh di Hilir sungai.
“Dua orang jenazah yang ditemukan warga di Parkit Air Tawar Padang, adalah Veglan RIzky dan Deni Leonardo.” Kata Aldian.
Hingga berita ini diturunkan, tinggal Aidil dan Reski yang belum ditemukan. Aldian juga berpesan, Apa yang menimpa adik-adiknya dalam melakukan Survey Medan adalah Insiden yang benar-benar tak terduga. “Dan mereka yang menjadi korban adalah adik-adik kita anak Mapala, bukan anak Mapala baru seperti yang banyak diberitakan,” Tutup Aldian.(s/rb)

Pukat Harimau Di Pesisir Selatan Semakin Memprihatinkan

Painan-Kegiatan penangkapan ikan oleh kapal Pukat Harimau di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan semakin memprihatinkan. Hal ini terjadi di wilayah Kecamatan Ranah Pesisir, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kecamatan Air Pura Indorupuro. demikina diungkapkan sekitar sepuluh nelayan yang terdiri dari tokoh masyarakat ketika menemui Kapolres Pesisir Selatan yang diterima Wakapolres Kompol Dwi Harsono dan Kabag OPS Kompol Hendri Yahya di ruangan Pertemuan Mapolres. Menurut salah seorang tokoh masyarakat Syafrul, akibat merajalelanya Pukat Harimau di wilayah Linggo Sari Baganti membuat nelayan tradisional menjadi korban. Nasib masyarakat kami semakin terpuruk, karena tangkapan ikan tidak ada lagi karena sudah dirambah kapal Pukat Harimau” Kegiatan pukat harimau yang dilakukan di wilayah Muaro Gadang Air Haji, sebenarnya sudah sering ditangkap oleh masyarakat, sampai-sampai ada dibakar, seolah-oleh mati satu tumbuh sepuluh, sehingga saat ini sudah tidak terhitung lagi berapa jumlahnya, katanya. Syafrul mengaku prihatin dengan nasib nelayan tradisional yang banyak hidupnya berada di bawah garis kemiskinan. Sementara potensi ikan sebelumnya cukup menjanjikan, tapi dengan pukat harimau berkeliaran sudah tidak ada lagi ikan yang bisa ditangkap oleh nelayan. “Dengan adanya pukat hariamu nelayan tradisional hidupnya di bawah garis kemiskinan. Apabila tidak ada tindak lanjut dari penegak hukum kami akan mengadu,“ kata Feri, tokoh Pemuda. Tujuan kami datang rame-rame kesini guna menghindari konflik antar masyarakat nelayan satu sama lainnya, supaya ada tindakan dari pihak penegak hukum, lanjutnya. Mereka menggunakan alat tangkap ikan cukup ekstrim. Bagian bawah jaringnya dipasangi rantai besi dan papan balok. Pukat itu ditarik paksa dengan mesin dan ketika proses itu berlangsung, keanekaragaman hayati di bawah laut termasuk terumbu karang, otomatis rusak akibat tersapu pukat. Kondisi ini secara tidak langsung mengancam ekonomi nelayan kecil. Bila sebelumnya para nelayan tradisional bisa memperoleh ikan dekat garis pantai, kini mareka mesti berlayar jauh hingga tengah laut lantaran sarang ikan yang dekat pantai semuanya sudah rusak. Wakapolres Kompol Dwi Harsono menyebutkan, bahwa pihaknya berjanji akan menindak tegas pelaku yang menggunakan pukat harimau, namun sebelumnya pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kelautan, apabila tidak dilakukan koordinasi dengan Dinas Kelautan pihak polisi juga tidak bisa bertindak, karena Undang-Undang yang mengaturnya. Disamping itu pihak polisi juga terbentur dengan anggaran operasional untuk melakukan patroli, karena anggaran operasinya tidak ada, dan pernah diajukan anggaran ke pemerintah daerah sampai saat ini tidak danggarkan, kata Dwi. (so.com)

Kamis, 26 September 2013

Halal Bi Halal HKKP

Kami Beritahukan Kepada Bapak Ibu Pemuda/i bahwasanya pada tgl. 20 Oktober 2013 Himpunan Keluarga Kenegarian Punggasan Mengadakan Halal Bi Halal Bertempat di Anjungan Sumatera Barat Taman Mini Indonesia Indah, Jadi kami sebagai Panitia Penyelenggara sangat berharap sekali kedatangan Bapak Ibu Pemuda/i sekalian di acara tersebut.
Demikian informasi ini kami sampaikan kedatangan Bapak Ibu Pemuda Pemudi sangat ditunggu terima kasih

Pengurus
HKKP