PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO Sekretariat Jl. Raya Jatiwaringin no. 368 Pondok Gede - Bekasi

PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO

Kecamatan Linggo Saribaganti Kabupaten Pesisir Selatan SUMBAR

PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO

Kecamatan Linggo Saribaganti Kabupaten Pesisir Selatan SUMBAR

PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO

Kecamatan Linggo Saribaganti Kabupaten Pesisir Selatan SUMBAR

PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO

Kecamatan Linggo Saribaganti Kabupaten Pesisir Selatan SUMBAR

PERSATUAN PEMUDA PEMUDI LINGGO SAIYO

Kecamatan Linggo Saribaganti Kabupaten Pesisir Selatan SUMBAR

LS

LS

Selasa, 01 Oktober 2013

MASYARAKAT PUNGGASAN MINTA PERHATIAN BUPATI

AIR HAJI, PESSEL, SO -- Banjir besar tanggal 3 November 2011 yang melanda daerah Pesisir Selatan benar-benar dasyat. Beberapa ruas jalan dan jembatan putus dibuatnya. Salah satunya adalah jembatan Talao Kandi di nagari Punggasan Timur, kecamatan Linggo Sari Baganti. Jembatan penghubung daerah Punggasan dengan Lubuak Buayo Air Haji itu putus dan tak bisa dilewati lagi. Putusnya jembatan Talao Kandi sangat mengganggu kelancaran transportasi masyarakat Punggasan dan Lubuak Buayo Air Haji. Daerah yang biasanya bisa ditempuh dengan jarak 2 kilometer, kini terpaksa dilalui lewat jalan memutar ke Air Haji dengan jarak 8 kilometer lebih. “Kondisi ini sangat menggangu masyarakat,” sebut Azhari, tokoh masyarakat Punggasan di lokasi jembatan Talao Kandi, Senin (17/6) lalu. Dikatakan Azhari, di awal putusnya jembatan tersebut, masyarakat bergotong royong membuat jembatan darurat dari bambu. “Tapi banyak masyarakat yang jatuh masuk sungai olehnya,” ujarnya sembari menyebutkan, untung saja tak ada yang terbentur ke besi bantalan jembatan lama yang masih melintang di lokasi tersebut. “Untung saja tak ada korban jiwa,” tambahnya. Melihat kondisi seperti itu, lanjut Azhari, seorang perantau Punggasan (anggota Kostrad) di Jakarta bernama Jamaris yang kebetulan pulang kampung, langsung menggerakan masyarakat membangun jembatan darurat yang lebih bagus dari batang kelapa. “Sejak itu sudah tak ada lagi yang jatuh,” sebutnya. “Tapi untuk membawa pupuk dan hasil pertanian, masyarakat tetap harus lewat jalan memutar ke Air Haji yang jaraknya 8 kilometer lebih,” tegasnya. Azhari bersama tokoh masyarakat Aziz berharap Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan segera membangun kembali jembatan tersebut. “Karena kondisinya sangat menyusahkan masyarakat,” ujar Aziz sembari berharap ada perhatian khusus dan lebih serius dari Bupati Nasrul Abit. “Pak Bupati NA (Bupati Nasrul Abit-red), bilo jambatan kami ka bapaelokan, pak….?,” ujar kedua tokoh masyarakat Punggasan itu menyampaikan pesan kepada Bupati Nasrul Abit. Masih Menuggu Dana dari BNPB Walinagari Punggasan Timur, Syafrijal yang ditemui di kantornya menyebutkan, pihaknya sudah berulang kali mendesak Dinas PU Kabupaten Pesisir Selatan untuk segera membangun kembali jembatan Talao Kandi tersebut. “Setiap ada urusan ke Painan, selalu saya sempatkan menanyakannya ke Dinas PU, tapi belum ada kepastian kapan akan dibangun kembali,” ujarnya. “Kata orang Dinas PU, itu menunggu dana bencana alam dari pusat,” tambahnya. Ditambahkan Syafrijal, di Punggasan Timur ada dua jembatan lagi yang juga dalam kondisi rusak berat. “Jembatan Koto Langang yang menghubungkan nagari Punggasan Timur dangan Punggasan (nagari induk) juga dalam kondisi rusak berat,” ujarnya sembari menjelaskan, pondasi dan lonengnya retak akibat gemba 2007 dan 2009 lalu. “Kini lantainya yang dari kayu juga sudah banyak yang patah karena sudah lapuk,” tambahnya. “Jembatan gantung Talatau Lubuak Ulu juga rusak,” lanjut Syafrijal sembari menjelaskan, jembatan ini rusak akibat banjir besar akhir tahun 2011 lalu. “Pondasinya ambruk, dan sling penahan lantainya putus,” ujarnya. “Kini sudah diperbaiki oleh masyarakat, tapi itu perlu diperbaiki lagi secara permanen supaya lebih aman,” tambahnya sembari berharap Pemkab Pessel segera memperbaiki ketiga jembatan tersebut. Camat Linggo Sari Baganti, Nuzirwan N, MT yang dikonformasi via ponselnya mengatakan, pembangunan kembali jembatan Talao Kandi sudah masuk dalan anggaran tahun 2013. “Itu dibangun tahun ini,” ujarnya seraya menyebutkan, dana pembangunan jembatan tersebut masuk dalam DAK (dana alokasi khusus) tahun 20013 senilai Rp850 juta. “Tapi kapan akan dimulai, kita belum dapat kepastian dari Dinas PU,” ujarnya lagi. Di kesempatan terpisah, Daswito, ST, Kabid Bina Marga Dinas PU Kabupaten Pesisir Selatan yang dikonfirmasi via ponselnya, Jumat (21/6) mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan kapan jembatan Talao Kandi akan dibangun kembali. “Kita sedang menunggu dana dari BNPB (Badan Nasional Penangguilangan Bencana-red),” ujarnya. “Itu sudah kita usulkan bersama jembatan dan jalan yang rusak oleh gempa dan bencana alam lainnya,” tambahnya. “Karena sudah dimasukan ke program bencana alam BNPB, makanya kita tidak menganggarkannya lagi di APBD Pesisir Selatan,” ujar Daswito lagi. “Namun hingga kini kita belum mendapat kepastian kapan dana tersebut turun,” tambahnya sembari berjanji akan terus mendesak BNPB supaya segera menurunkan dana bencana alam ke Pesisir Selatan. “Masyarakat harus bersabar, karena APBD kita sangat terbatas,” pungkasnya. Dilaporkan : novermal - See more at: http://www.sumbaronline.com/berita-15796-masyarakat-punggasan-linggo-sari-baganti-minta-perhatian-bupati-.html#sthash.SfI9caqy.dpuf

Di Lahan Gambut Punggasan, Jagung Bisa Panen 10 Ton Per Hektar


PUNGGASAN, PESSEL, SO -- Lahan gambut yang selama ini tidak produktif, kini bisa jadi sumber rupiah yang melimpah. Setidaknya itulah yang dibuktikan Kelompok Tani Sarai Sarumpun di Balah Rambahan, nagari Punggasan, kecamatan Linggo Sari Baganti, kabupaten Pesisir Selatan. Bermitra dengan PT Syngenta, kelompok tani yang dipimpin Asis dan Azhari itu bisa panen jangung 10 ton per hektar.

“Dengan teknologi dari PT Syngenta, hasil panen jauh bagus,” ujar Azhari di sela-sela kegiatan Ekspo Jagung 2013 di lahan pertaniannya, Selasa (10/9).

“Hasilnya bisa mencapai 10 ton per hektar,” tambahnya sembari menjelaskan, varietas yang digunakan adalah NK99 dan dibantu dengan herbisida (racun rumput-red) Calaris. “Mudah-mudahan ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani,” tambah Ketua DPAC Partai Gerindra itu.

Di kesempatan yang sama, Agronomis PT Syngenta Wilayah Sumbar-Riau, Boy Buldansyah menjelaskan, Ekspo Jagung 2013 selama dua hari itu dimaksudkan untuk mentransfer teknologi terbaru bertanam jagung baik dan benar kepada petani.

“Semuanya harus diawali dengan benar, yaitu rencanakan investasi untuk hasil yang maksimal, keunggulan teknologi dalam kemasan, rawat jagung kendalikan gulma, melindungi sekaligus meningkatkan hasil, dan kepastian hasil dalam genggaman,” jelasnya.

Ditambahkannya, kalau direncanakan panen 10 ton per hektar, panennya harus 10 ton. “Kalau kurang, itu pasti ada yang salah,” tegasnya. “Makanya petani kita ajarkan cara bertanam jagung yang baik dan benar,” alasnya sembari menambahkan, PT Syngenta terus memfasilitasi petani dengan benih jagung unggul dan sarana produksi tani lainnya.

“Benih jagung NK99 sangat cocok untuk lahan gambut, dan panennya bisa mencapai 10 ton per hektar,” tambah Boy Buldansyah.

Keunggulan lain dari teknologi PT Syngenta adalah, lanjutnya, pengendalian gulma (tanaman liar-red) menggunakan herbisida Calaris. “Petani menyebutnya herbisida pintar, karena gulma mati tapi jagung tetap hidup dengan baik,” jelasnya.

“Dengan Calaris, biaya perawatan jagung menjadi lebih mudah dan murah,” tambahnya sembari menambahkan, dengan modal Rp7 jutaan, petani bisa menghasilkan Rp32 juta per hektar.

Boy Buldansyah yang asli Lubuk Alung Padang Pariaman itu berharap petani di kecamatan Linggo Sari Baganti, dan umumnya Pesisir Selatan memanfaatkan Ekspo Jagung 2013 tersebut untuk menimba ilmu jadi petani jagung profesional.

“Petugas kita selalu siap memdampingi petani,” tegasnya. “Pesisir Selatan sangat potensial jadi sentra jagung, dan kini sudah 75 persen lebih petani Pesisir Selatan menggunakan benih jagung unggul NK99,” tutupnya.

Dilaporkan : Novermal
- See more at: http://www.sumbaronline.com/berita-16699-di-lahan-gambut-punggasan-jagung-bisa-panen-10-ton-per-hektar.html#sthash.3OjHEbUs.dpuf